Awalnya, aku gak terlalu tertarik dengan buku ini karena kesannya depresif banget, muram, beraura gelap (halah..). Di sisi lain aku tertarik dengan nama penyakitnya: Lupus. Yang aku tau Lupus itu tokoh novel yang kemudian diadaptasi jadi film waktu jaman aku kecil. Aku gak inget ceritanya tapi aku inget yang main, Irgi Fahrezi (betul gak ya..). Selain itu ada tulisan 'best seller' yang bikin aku mau beli buku ini....ummm engga banget deh alasannya.Halaman demi halaman aku baca. Awal-awal bener-bener bikin ngantuk ini buku (maap ya, Sinta <-- nama penulisnya Sinta Ridwan), soalnya penuh dengan puisi melankolis, foto2 hitam putih, dan cerita2 melow dia di masa kecil tentang bagaimana keluarga dia pelan tapi pasti hancur berkeping2 (duh jadi ikutan melow >.<). secara pribadi aku rada sensi sama cerita beginian karena keluargaku sendiri gak utuh lagi. jadi di bagian ini banyak yang aku skip.

Aku mulai fokus pada cerita saat pertama dia jatuh sakit sampai cerita berakhir. Aku mulai gak bisa lepas baca buku ini waktu ceritanya sampai bagaimana perjalanan dia menemukan penyakitnya sampai pada tahap dia bisa menerima penyakitnya. Aku bilang aku gak bisa lepas baca, artinya aku babat habis buku (gak dari awal sekali sih karena banyak yang aku skip, yang jelas dari mulai dia sakit-sakitan) ini dalam semalam alias SKS, sistem kebut semalam hahaha.. Emangnya masih kuliah.. Suer, aku gak bisa berenti baca. Aku baca dengan teliti deskripsi penyakit lupus, tentang teori dan pengalaman si penulis sendiri.
Aku gak bisa mengutarakan disini apa itu lupus. Daripada copas dari web mending kasih link-nya aja deh, baca disini. Yang jelas setelah akhirnya tutup buku (emangnya apaan hwuahaha..) aku selalu memikirkan keadaan si penulis saat ini. Apa dia masih baik-baik saja, ato bertambah sakit. Aku selalu merinding mengingat dia bisa kumat kapan aja.
Ada potongan cerita yang bikin aku merinding, yaitu saat dia (dia pikir) hampir saja menemui malaikat maut, saat lupusnya kumat di tengah malam dalam kondisi sendirian, dia merasa jantungnya sakit sekali. Dia bilang, "Tuhan, aku ingin mati, tapi aku ingin kamu menemaniku, jadi aku tidak sendirian menghadapi kematian." Aku pribadi tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan seperti itu. Tapi benar-benar bikin aku merinding dan semakin ketakutan bahwa kematian bisa saja datang setiap saat, tidak selalu pada orang sakit, juga pada orang yang sehat. Aku teringat keluarga kecilku yang tersisa, mami, adek, kakak, juga pacar. Dan saat itu juga aku berdoa, semoga mereka diberi umur panjang. Amin~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar